Sabtu, 12 November 2011

Slank - Karang

Di hening saat malam 'kan menjelang
Otakku menerawang
Terkenang ketika memandang
Ombak menimpa karang

Di sini saat malam t'lah datang
Pikiranku melayang
Melihat karang yang dulu teguh menantang
Kini hancur menghilang

Karang lebur tertelan ombak
Lenyap di dalam lautan
Bagai imanku yang dulu tegar
Kini hancur dalam sesat kehidupan

Aku ingin kembali
ke masa kecilku dulu
Aku ingin kembali
Bersih suci seperti dulu

Aku ingin kembali
ke masa kecilku dulu
Aku ingin kembali
Bersih suci seperti dulu...

Jumat, 04 November 2011

Tipe-Tipe Kepribadian Manusia

Tipe 1: Si Penyempurna

(The Perfectionist, The Reformer)
Visi: Kehidupan adalah tentang mengoreksi kekeliruan dan memperjuangkan perbaikan.
Berkah: Sifat Kritis.
Si Penyempurna memiliki kemampuan bawaan untuk menaksir potensi perbaikan dalam segala situasi. Biasanya, ia menaruh cukup perhatian pada apa yang benar atau yang salah di semua bidang kehidupan dan sangat termotivasi untuk memperbaikinya. Seringkali ia mempunyai intuisi tentang jalan terbaik untuk melakukan sesuatu atau pun memecahkan masalah dengan sangat cepat. Si Penyempurna bertanggung-jawab dan dapat diandalkan. Ia bangga akan keterus-terangan dan integritasnya. Tipe [kritis] yang idealis ini bisa menyumbang ide dan energi untuk pembaharuan.
Motivasi Bawah-Sadar: Rasa Gusar.
Sisi Gelap
Perhatiannya pada kekeliruan bisa mengarah pada pencelaan dan penghakiman terhadap diri sendiri dan orang lain. Mungkin ia yakin punya pengetahuan yang superior tentang jalan yang benar. Ketika sesuatu sudah cukup bagus, mungkin ia sulit mengakuinya. Si Penyempurna menampakkan kecenderungan untuk menggunakan pemikiran ‘hitam dan putih’. Jalinan-jalinan hubungan, tugas-tugas, dan bahkan kehidupan dinilainya baik atau buruk, benar atau salah, adil atau lalim. Ia sering mengambil tanggung jawab yang terlalu besar [sampai mengambil alih tanggung jawab orang lain], sehingga orang-orang lain tidak melakukan kewajiban atau pun memenuhi komitmen mereka. Dengan mengabaikan kesenangan demi apa-apa yang ‘seharusnya’ dilakukan, si Penyempurna menyiram minyak ke dalam api kemarahan yang berkobar di dalam hatinya. Rasa takutnya kalau-kalau membuat kesalahan atau pun kalau-kalau memperlihatkan kebodohan dapat menyebabkan ia menunda-nunda pengambilan keputusan.
Suasana Jiwa
Si Penyempurna memiliki kritik internal yang begitu dahsyat, sampai menghakimi dan mencaci-maki diri, sehingga selalu merasa kurang. Kita semua mempunyai kritik internal, tetapi suara hati si Penyempurna kurang mengenal rasa iba. Ia sering kaget bilamana orang lain menuduh dia pencela, karena ia hanya menyampaikan bagian terkecil dari kritik internalnya yang tanpa henti. Dengan berkeyakinan bahwa setiap orang terfokus (seperti dia) pada perbaikan, si Penyempurna merasa bahwa ia sekadar menawarkan jalan terbaik.

Tipe 2: Si Penolong

(The Helper, The Giver)
Visi: Kasih-sayang(ku) menjadikan bumi berputar.
Berkah: Empati [yaitu kemampuan merasakan kebutuhan dan perasaan orang lain].
Si Penolong mempunyai kemampuan alamiah untuk menjalin hubungan yang empatik dengan orang lain. Ia benar-benar merasakan apa yang dirasakan atau dibutuhkan oleh orang lain. Ia terdorong untuk berhubungan dengan orang-orang lain dengan sepenuh-hati dan memenuhi kebutuhan mereka. Si Penolong merupakan penghubung yang berbakat, yang menciptakan hubungan-hubungan antarmanusia. Ia bisa menyediakan jalan bagi orang-orang lain untuk mewujudkan potensi mereka. Ia senang mempengaruhi orang dari belakang layar dan mendukung orang-orang lain dengan penuh-semangat. Yang terbaik, si Penolong itu hangat dan penuh-perhatian. Seringkali, si Penolong bisa menjadi altruis sejati [yaitu benar-benar mementingkan orang lain], sehingga perilaku memberi itu biasanya bagaikan bernafas dan [tulus] tanpa pengharapan.
Motivasi Bawah-Sadar: Rasa Bangga terhadap Diri-Sendiri.
Sisi Gelap
Si Penolong itu begitu peka terhadap kebutuhan atau perasaan orang lain, sehingga kurang mengenali kebutuhan atau perasaannya sendiri. Akibatnya, ia bisa mendapati dirinya terkuras habis, dan kemudian marah-marah. Pemberian bawah-sadar mengandung pamrih. Si Penolong itu memberi [secara bawah-sadar] untuk memperoleh terpenuhiniya kebutuhan batiniahnya sendiri. Ia mungkin menggunakan kehangatan dan rayuan untuk mendapatkan apa-apa yang ia inginkan. Hal ini bisa terasa manipulatif bagi orang yang dia bantu. Acapkali, si Penolong memberi kepada orang yang tidak meminta pertolongannya atau kepada orang yang tidak menghendaki bantuannya. Rasa bangganya dia rasakan sebagai rasa mengetahui apa-apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh orang lain.
Suasana Jiwa
Si Penolong sungguh-sungguh merasa seolah-olah ia meninggalkan raganya melalui hatinya untuk berempati dengan orang-orang lain dan mendapatkan intuisi tentang kebutuhan mereka. Karena perhatiannya begitu terarah kepada orang lain, ia kurang mengenali kebutuhannya atau perasaannya sendiri. Namun, jika kita memandang kehidupan dari sudut pandang si Penolong, maka kita dapati pendirian kuat bahwa untuk tetap hidup dan memperoleh cinta,  kita perlu merasai dan memenuhi kebutuhan orang lain. Bagi dia, jalinan hubungan dengan orang-orang lain merupakan sumber kehidupan, dan ini terjamin kalau mereka itu penting bagi dia.

Tipe 3: Si Pencapai

(The Performer, The Achiever)
Visi: Kehidupan adalah tentang memperlihatkan citra sukses (successful image).
Berkah: Efektivitas dan Daya-Adaptasi.
Si Pencapai berenergi tinggi, melakukan banyak hal dengan banyak tugas. Ia membuat hal-hal itu terjadi. Ia bisa beradaptasi dengan segala kelompok atau situasi dengan kemampuan seperti bunglon untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Si Pencapai memberi inspirasi dan motivasi melalui kehangatan dan penyajian citra sukses. Tidak ada tipe lain yang lebih sadar akan kekuatan citra. Si Pencapai adalah pedagang (salespeople) alamiah.
Motivasi Bawah-Sadar: Sifat Membohongi Diri-Sendiri.
Sisi Gelap
Perhatiannya yang terfokus pada tujuan dan tugas dapat mengalihkan si Pencapai dari segi-segi kehidupannya yang lainnya. Perasaan-perasaan sering tercampakkan ke ‘keranjang sampah’ dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan. Si Pencapai bolehjadi memanfaatkan orang lain untuk mengerjakan tugasnya atau menambah beban siapa saja yang sedang menyelesaikan pekerjaan. Ia mungkin menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan atau merampungkan proyek, selama terlihat baik bagi orang lain.
Suasana Jiwa
Si Pencapai bisa jadi begitu teridentifikasi dengan citra yang ia hadirkan atau dengan apa yang ia lakukan, sehingga ia kehilangan dirinya sendiri. Ia mungkin tidak yakin akan perasaan atau hasratnya sendiri. “Aku sukses dalam hal ini, tetapi benarkah aku ingin melakukannya?” Bakatnya dalam beradaptasi (menampilkan diri sedemikian rupa sehingga diterima dengan baik oleh khalayak), atau dalam mengidentifikasi diri bahwa dia adalah apa yang dia lakukan, bisa menyebabkan dia khawatir kalau-kalau dia bukanlah dirinya sendiri. “Kalau aku tidak lagi ‘di atas panggung’, orang-orang akan mendapati bahwa aku seorang pengecoh dan bahwa sesungguhnya pada diriku tidak ada apa-apanya.” [Bagi si Pencapai,] cinta dan kelangsungan hidup itu bergantung pada pemeliharaan citra sukses.

Tipe 4: Si Romantis

(The Romantic, The Individualist)
Visi: Sesuatu yang mendasar hilang dari kehidupan[ku]. Aku takkan kekurangan apa-apa kalau bisa menemukan sesuatu yang hilang itu.
Berkah: Keunikan dan Kedalaman Perasaan.
Si Romantis memiliki kemampuan khas untuk hidup dalam situasi yang mendalam: kepedihan, kematian, depresi. Melalui pemahamannya tentang kelemahan jiwa manusia, ia menemani orang lain dalam menjalani hidup ini. Si Romantis memperagakan bahwa kita akhirnya akan lepas dari masa-masa sulit, dan memperjelas bahwa kekayaan sejati terdapat di kedalaman batiniah. Di dalam usaha apa pun, ia berpembawaan kreatif dan orisinil. Dengan diberkahi rasa estetik dan/atau dramatik yang kuat, ia lebih suka memberi kontribusi yang unik dalam kehidupan.
Motivasi Bawah-Sadar: Rasa Iri/Cemburu.
Sisi Gelap
Si Romantis mengidam-idamkan jalinan hubungan dan kedalaman perasaan. Kadar kedalaman perasaannya dapat dipandang berlebihan oleh orang-orang yang bertipe lain. Kecenderungannya kepada ekspresi perasaan secara dramatis bisa menjadikan dia asing bagi orang lain. Minatnya pada kepiluan dan perasaan-perasaan ‘yang lebih gelap’ dapat menjadikan dia bersikap semaunya sendiri. Pada keadaan terparah, kecengengannya bisa berkembang menjadi depresi. Kengototannya dalam menunjukkan keunikannya bisa-bisa menjadi kontraproduktif terhadap tujuan dia sendiri dan membuat orang lain menolak dia.
Suasana Jiwa
Si Romantis merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya. Orang-orang lain memilikinya, dan ia sering merasa iri kepada mereka. Ia merindukan unsur yang akan menjadikan dia merasa utuh itu. Rasa pahit dan manis bercampur di dalam kerinduan dan kesayuannya. Si Romantis mengidam-idamkan jalinan hubungan yang akan memenuhi kebutuhan perasaannya. Di dalam perasaannya yang mendalam terdapat keotentikan. Jika ia tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat menyempurnakan dia, sekurang-kurangnya ia memiliki kemendalaman. Bagi si Romantis, ketidak-unikan merupakan sejenis kematian. Baginya, cinta dan kelangsungan hidup bergantung pada kesesuaian dengan keadaan perasaan batiniah orang-orang.

Tipe 5: Si Pengamat

(The Observer, The Investigator)
Visi: Pengetahuan[ku] dapat menjaga keamananku.
Berkah: Obyektivitas.
Si Pengamat mempunyai kecakapan alamiah untuk lepas dari perasaan-perasaan, kebutuhan-kebutuhan, dan orang-orang. Di dalam situasi-situasi yang di dalamnya orang-orang lain menjadi emosional atau tunduk kepada kesemerawutan, ia berkepala dingin dan memberlakukan kejelasan. Sikap mental ini memberi dia peluang besar untuk memiliki kemampuan pengamatan yang tajam. Si Pengamat sering menjadi pendengar yang baik dan tidak memaksakan pengetahuannya kepada orang lain. Ia orang yang independen dan mampu menahan-diri. Ia terjun secara mendalam ke dalam bidang pengetahuan yang menggairahkan dia, [sehingga] sering menjadi ahli di bidang yang ia geluti. Si Pengamat tampak mempunyai kemampuan yang sangat maju dalam mensistematisasi pikiran, menganalisis dan mensintesis informasi yang rumit.
Motivasi Bawah-Sadar: Sifat Kikir [atau tidak murah-hati].
Sisi Gelap
Si Pengamat bisa terlalu mengandalkan pikiran ketika perasaan lebih dibutuhkan. Ia mungkin terasa jauh atau tidak punya perasaan bagi orang yang bertipe lain. Dengan lebih menyukai dunia pikiran untuk berinteraksi, si Pengamat mungkin terputus dari kehidupan [orang-orang]. Kebutuhannya yang besar untuk memiliki privasi bisa menjadikan dia terisolasi. Keyakinannya, bahwa energi terbatas, dapat mengarah pada pemenggalan bagian-bagian kehidupan. Ia bisa secara kaku menyediakan waktu khusus untuk kerja saja, jalinan hubungan saja, dan kesenangan saja. Si Pengamat dapat menyembunyikan informasi dan menyia-nyiakan waktu, energi, dan bahkan dirinya sendiri.
Suasana Jiwa
Si Pengamat memiliki perasaan yang kuat sebagaimana orang-orang lain, tetapi lebih suka menanganinya belakangan tatkala sendirian dengan aman. Ia merasa energinya begitu besar, sehingga bisa kewalahan. Untuk memulihkannya, ia butuh menyendiri dengan waktu yang dikhususkan untuk itu. Sekalipun begitu, si Pengamat mungkin memerlukan banyak energi ketika mengetahui apa yang diharapkan [orang lain] dari dia. Ia tidak menyukai situasi yang tidak bisa diprediksi. Si Pengamat ingin memahami [segala sesuatu]; ia menumpuk pengetahuan. Seringkali ia merasa lebih aman bila menyimpan sebagian pengetahuannya; tidak semuanya ia sampaikan kepada orang lain.

Tipe 6: Si Antisipatif

(The Loyal Skeptic, The Questioner)
Visi: Dunia adalah tempat yang berbahaya. Hampir semua orang mempunyai agenda tersembunyi.
Berkah: Perencana dan Loyal.
Kuatnya daya imajinasi si Antisipatif memungkinkan dia untuk melihat lubang-lubang dalam, lereng-lereng terjal, atau bahaya-bahaya pada segala situasi. Ahli perencanaan ini mampu membayangkan cara-cara untuk menghadapi atau pun menghindari bahaya. Terhadap sesuatu yang ia yakini, loyalitasnya tampak luar-biasa. Ia sering menjadi anggota tim atau pekerja di belakang layar yang patuh dan berkomitmen.
Motivasi Bawah-Sadar: Rasa Takut.
Sisi Gelap
Perhatian si Antisipatif yang terlalu tinggi terhadap kemungkinan munculnya bahaya bisa saja masih berlangsung ketika ancaman yang mungkin ada itu sangat rendah. Orang-orang yang bertipe lain mungkin merasa bahwa dia pengecut atau pembawa kabar buruk. Seperti anak cengeng yang tangisannya meraung-raung, si Antisipatif bisa kehilangan kredibiltas mengenai pesan-pesan alarm yang berulang-ulang, sehingga tidak dihiraukan ketika bahaya nyata menghadang dia. Kesetiaannya bisa salah-letak dan bertentangan dengan kepentingannya sendiri. Komitmen dan tugas dapat membuat dia kewalahan dan loyo.
Suasana Jiwa
Si Antisipatif dapat segera melihat ancaman bahaya di segala situasi. Ia melihatnya di benaknya seolah-olah benar-benar terjadi dan mengalami reaksi ketakutan di tubuhnya seolah-olah kejadian itu sedang berlangsung. Si Antisipatif selalu waspada sepanjang waktu dan membuat rencana-rencana untuk menghindari atau menghadapi kemungkinan bahaya-bahaya. Ketika bahaya itu benar-benar terjadi, ia menjadi sangat khawatir. Rasa takutnya tertanam di benaknya. Si Antisipatif bersikeras bahwa ia tidak pesimistis, tetapi realistis. Ia melihat kemungkinan bahaya yang tidak dilihat oleh orang lain. Ia terus-menerus mencari sandaran yang bisa mereka percayai, tetapi yakin bahwa sebagian besar orang yang diberi wewenang malah menyalahgunakan kekuasaan mereka. Namun, ia bersedia mengorbankan diri dalam menjalaninya ketika menjunjung tinggi kesetiaan.

Tipe 7: Si Pendorong

(The Epicure, The Enthusiast)
Visi: Kehidupan adalah suatu petualangan dengan kemungkinan-kemungkinan yang nyaris tak terbatas.
Berkah: Optimisme.
Si Pendorong yang optimistis ini memandang sisi terang segala situasi. Selaku pendorong yang berenergi tinggi, ia dapat membuat orang-orang lain antusias. Ia senang membayangkan kemungkinan-kemungkinan dan opsi-opsi. Si Pendorong ini sumber ide yang tampaknya tanpa henti mengalirkan pandangan-pandangan dan potensi-potensi. Merencanakan kesenangan masa depan merupakan keasyikan utama si Pendorong. Ia pemikir sinergistik [yaitu mampu menggabungkan ide-ide secara serempak] yang mengaitkan hal-hal yang kelihatannya mustahil.
Motivasi Bawah-Sadar: Sifat Rakus.
Sisi Gelap
Fokus tunggal si Pendorong pada sisi terang kehidupan bisa menyebabkan dia mengabaikan seluruh pengalaman insani. Kesedihan, kepedihan, kerugian, atau pun kesulitan dihindarinya dengan tekun. Orang lain mungkin mendapati bahwa si Pendorong tidak bisa diharapkan untuk hadir pada masa krisis, atau bahkan untuk mengatasi persoalan-persoalan serius. Seperti anak kecil yang tak pernah tumbuh, dengan rakus ia cepat-cepat menuju pengalaman atau penginderaan berikutnya. Kemampuan si Pendorong untuk membingkai masalah sehingga menjadi positif bisa mengakibatkan dia menolak kenyataan akan adanya lubang-lubang kehidupan. Dengan merasa terjebak oleh terbatasnya pilihan, ia bisa mengalami kesulitan dalam berkomitmen —baik komitmen dengan orang lain maupun dengan tugas atau pun dengan keduanya. Si Pendorong menelurkan ide-ide dan pandangan-pandangan yang berlimpah, tetapi bisa jadi bukan rancangan-rancangan utuh. Ia dapat menjadi penggemar yang mencoba beraneka-macam pekerjaan, hobi, olahraga, tetapi lekas beralih ke sesuatu yang baru sebelum menjadi benar-benar cakap.
Suasana Jiwa
Si Pendorong merasa bahwa kehidupan terlalu menakjubkan untuk disia-siakan dengan berkubang dalam kepedihan atau kesedihan. “Mengapa berbaring kalau bisa berdiri?” Ia bisa melihat ‘garis perak di awan hitam’. Kehidupan tampak dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang tak berujung. Si Pendorong senang memiliki banyak opsi dan rencana yang terbuka, bahkan walau bukan dia yang menyediakan itu semua. Berkomitmen terhadap satu opsi saja terasa seperti terjebak. Tatkala mempunyai ide atau pandangan hebat, si Pendorong merasa seolah-olah ia telah mewujudkannya —di dalam benak. Jadi, bagi dia, menyelesaikan gugus-tugas tidak selalu penting manakala ia sudah terpuaskan oleh idenya. Kebosanan bukan masalah baginya, dengan cukup beralih ke sesuatu yang baru. Di dalam jiwanya, penghindaran si Pendorong dari kepedihan dan kesusahan berakar dari ketakutan kalau-kalau perasaannya membinasakan dia.

Tipe 8: Si Pengatas

(The Boss, The Challenger)
Visi: Hanya yang kuat yang tetap hidup.
Berkah: Kekuatan.
Si Pengatas ialah orang yang berterus-terang, langsung [apa adanya], [dengan semboyan] ‘yang kau lihat adalah yang kau dapatkan’. Ia mampu menerima beban dan membuat keputusan dengan cepat. Si Pengatas ialah orang yang suka bertindak. Cukup dengan kuatnya kemauannya, ia mampu menggerakkan orang-orang lain untuk berbuat lebih dari yang mereka pikir bisa dilakukan. Ia sering bertindak selaku pelindung orang-orang lemah dan penegak keadilan. Si Pengatas ialah pemimpin bergairah tinggi yang turut merasakan kesenangan hidup sepenuhnya. Ia merupakan orang bersensasi yang cocok dengan unsur-unsur: angin, air, batu, badai.
Motivasi Bawah-Sadar: Nafsu Berhukum Rimba.
Sisi Gelap
Bagi orang lain, gaya terus-terang tanpa basa-basi si Pengatas mungkin terasa brutal dan menguasai. Dalam mendapatkan apa yang ia inginkan, tanpa sadar akan dampaknya, ia bisa menyakiti perasaan dan menggilas kemauan orang lain. Keputusan yang dibuatnya dengan cepat dengan naluri sederhana mungkin tidak diimbangi dengan pikiran atau perasaan secukupnya. Si Pengatas dapat mengelompokkan segala sesuatu menjadi dua, yaitu yang layak dan yang tidak layak. Kelompok yang layak (menurut si Pengatas) itu dia masukkan ke dalam perlindungannya. Kelompok lainnya yang dia anggap lemah dan tidak layak itu dia pandang bagai karikatur dan cukup ‘dimakan’ atau ditaklukkan. Hukum rimba berlaku dalam visi si Pengatas. Nafsunya bisa berlebihan sehingga membahayakan kesehatan. Orang-orang lain mungkin memandang bahwa dia terlalu jauh, terlalu nyaring, terlalu segalanya.
Suasana Jiwa
“Aku tak peduli apakah kamu menyukaiku, tetapi sebaiknya kamu menghargaiku,” kata si Pengatas. Ia senang dihormati oleh orang-orang lain —ia bisa mengetahui siapa saja mereka. Ia gemar bersaing dengan lawan yang layak, karena dalam persaingan muncul kebenaran. Meskipun mengalami masa sulit saat menahan emosi ketika sangat marah, kemarahannya ini berlangsung singkat bagaikan badai musim panas. Si Pengatas berjuang menguasai situasi. Ia mungkin tidak selalu perlu dikendalikan, tetapi ia benci dikendalikan. Bila si Pengatas menikmati sesuatu, ia menginginkannya sepenuhnya, tanpa terhalang. Sekalipun dia terlihat kuat, ia menghindari kerentanannya sendiri. Lantaran khawatir kalau-kalau batinnya sangat lemah, ia dapat mengubah perasaan lembutnya menjadi perasaan bosan dan menemukan penangkal gejolak hawa-nafsunya.

Tipe 9: Si Pendamai

(The Mediator, The Peacemaker)
Visi: Kehidupan adalah mengenai keharmonisan —mengikuti air mengalir.
Berkah: Penerimaan.
Si Pendamai merupakan tipe Enneagram yang paling terbuka dalam menerima keberadaan orang lain tanpa menghakimi. Sikap kalem yang terbuka merupakan ciri khas orang yang lembut ini. Si Pendamai mampu melebur ke dalam jalinan hubungan yang mendalam dengan orang-orang lain lantaran bisa merasakan keadaan batiniah mereka. Melalui pemahamannya ini muncullah kemampuan untuk melihat semua sisi persoalan dan menjadi penengah di antara pihak-pihak yang bertikai. Si Pendamai menghargai keberadaan (di atas perbuatan) dan biasanya hidup dalam kerangka-waktu masa kini.
Motivasi Bawah-Sadar: Sifat Malas (Lupa-Diri).
Sisi Gelap
Karena menyatu dengan agenda dan prioritas orang lain tanpa pilih-pilih untuk menghindari ketidak-harmonisan, si Pendamai mungkin melalaikan kecenderungannya sendiri. Ia bisa mengambil peran pasif dan menunggu orang lain untuk menentukan jalan. Hidup dalam kerangka-waktu masa kini dapat menyebabkan si Pendamai sulit melakukan perencanaan dan pemprioritasan untuk masa depan. Penyetaraan segala hal bisa mengganggu pengambilan keputusan dan menghasilkan penunda-nundaan. Hasratnya akan perdamaian dapat merongrong  pemecahan masalah dan konflik yang sehat. Hukum kelembaman (inertia) mungkin berlaku bagi si Pendamai —ketika beraksi mereka mampu untuk terus melakukannya, tetapi kalau berhenti maka diperlukan banyak energi untuk membuat ia beraksi kembali. Sikap suka damai si Pendamai mungkin dipandang oleh orang lain sebagai kekurangan atau kelemahannya.
Suasana Jiwa
Si Pendamai merasa lebih mudah berjalan seiring dengan kecenderungan orang lain daripada mengenali kecenderungannya sendiri. Pertama, sulit baginya mengetahui apa yang ia inginkan. Kedua, ia tidak ingin mengambil risiko kalau-kalau hasratnya berbenturan dengan hasrat seseorang yang penting bagi dia. Si Pendamai menyenangi kehidupan yang harmonis dan nyaman. Ia mudah menerima orang-orang apa adanya; ia sukar percaya mengapa orang-orang tidak dapat bergaul dengan rukun. Karena semua sudut pandang dan masukan dipandang setara oleh si Pendamai, mudah baginya bertindak selaku mediator. Akan tetapi, penyetaraan segala sesuatu bisa menyebabkan dia sangat kebingungan. Semua hal yang perlu dilakukan atau diurus itu menuntut perhatiannya, tetapi ia tidak mampu memprioritaskan atau melakukannya. Kadang-kadang, ia menenggelamkan diri dengan TV, buku, atau makanan, untuk menjauhi dan menghentikan kekacauan di dalam dirinya itu. Bangkit dari kebingungan ini mungkin sulit bagi dia.

Dikutip dari Clarence Thomson, et al, Kepribadian Romantis Yang Mengasyikkan,

Belajar Dari Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup ? karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri ! Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah

Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama.

GUNCANGKANLAH !!!!
"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki!"
Selintas memang suatu masalah yang pelik, seakan2 tidak ada jalan keluarnya. Namun jika kita mampu melewatinya terkadang kita tertawa, ternyata solusi permasalahan tsb sungguh mudah. Itu adalah Kebesaran dari Yang Maha Kuasa.