Jumat, 19 April 2013

Serba-Serbi Ketupat




Ada yang tidak tahu Ketupat? Saya rasa setiap orang Indonesia mungkin sudah tidak lazim lagi mendengar, melihat dan mengkonsumsi makanan yang satu ini, apalagi setiap Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, seolah-olah  makanan  ini adalah makanan wajib pada kedua momen tersebut. Tapi apa pernah  terlintas di benak kita untuk mempertanyakan asal-usul ketupat, siapa penemu ketupat ini? Dan bagaimana prosesnya hingga menjadi makanan yang populer di Indonesia? Atau apa makna filosofis yang terkandung dalam ketupat tersebut? Jika anda salah satu orang yang ingin mengetahui atau bahkan pernah bertanya tentang hal tersebut, ini lah jawabannya..

Ketupat yang seperti kita ketahui adalah makanan pengganti nasi dengan bahan dasar yang sama yakni beras, namun dalam pengolahannya dibungkus dengan anyaman daun kelapa dan dikukus matang. Ketupat umumnya dihindangkan bersama gulai, semur atau sate. Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di negara Malaysia, Singapura dan mungkin ada di negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya.

Berdasarkan sejarah yang diketahui, Ketupat di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Kanjeng Sunan sendiri membudayakan perayaan dengan ketupat itu pada dua waktu, yakni Pasca Lebaran dan  Ba’da Kupat, yaitu periode yang diawali seminggu setelah Lebaran. Pada kala itu dibuat untuk diantarkan kepada kerabat yang lebih tua dan dikonsumsi bersama sebagai bentuk rasa hormat dan  simbol kekeluargaan.

Adapun makna filosofis lain yang terkandung dalam ketupat, antara lain:
-          Anyaman ketupat yang rumit adalah simbol dari berbagai macam kesalahan manusia.
-          Warna putih dari isi ketupat mencerminkan kemurnian dan kesucian hati manusia (pada dasarnya)
-          Bentuk  ketupat yang teranyam rapi menunjukkan kesempurnaan ibadah kita setelah selama sebulan penuh menunaikan ibadah puasa (tapi mungkin sekarang bentuk ketupat mestinya sedikit dimodif, mengingat kualitas puasa kita, hehe)..

Nah, itulah serba-serbi ketupat yang mungkin penulis dapat rangkum, kalau ada tambahan yang silakan saja..
Setidak-tidaknya mari kita belajar menjaga makna filosofis ketupat tersebut dengan meningkatkan iman dan taqwa kita.. hidup ketupat!!!

Minggu, 14 April 2013

George Benson - Nothing Gonna Change My Life for You


If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh, so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong

Our dreams are young and we both know
They’ll take us where we want to go
Hold me now, touch me now
I don’t want to live without you

Chorus 1 :
Nothing’s gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I’ll never ask for more than your love

Chorus 2 :
Nothing’s gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
The world may change my whole life through but nothing’s gonna change my
love for you

If the road ahead is not so easy
Our love will lead the way for us like a guiding star
I’ll be there for you if you should need me
You don’t have to change a thing
I love you just the way you are

So come with me and share this view
I’ll help you see forever too
Hold me now, touch me now
I don’t want to live without you

Senin, 08 April 2013

Rengasdengklok, Bukti Kegigihan Perjuangan Pemuda Indonesia

 
Kisah penculikan Soekarno dan Hatta
Hatta-Soekarno-Sutan Sjahrir
 
Peristiwa Rengasdengklok tak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan bangsa ini. Peristiwa 'penculikan' terhadap dua proklamator itu menjadi salah satu momen penting jelang proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, keinginan untuk segera memproklamasikan kemerdekaan semakin menggelora di bangsa Indonesia. Namun, saat itu terdapat perbedaan pendapat yang tajam antara golongan muda dengan golongan tua soal pelaksanaan proklamasi.


Kaum tua yang dimotori Bung Karno dan Hatta saat itu lebih kepada perhitungan politiknya. Mereka berpandangan untuk memproklamasikan kemerdekaan diperlukan revolusi yang terorganisir dengan baik. Karenanya, kerjasama dengan Jepang masih diperlukan agar tidak terjadi pertumpahan darah.

 

Soekarno dan Hatta kemudian bermaksud membahas pelaksanaan proklamasi dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sebab, dengan demikian pelaksanaan proklamasi tidak akan menyimpang dari ketentuan Jepang.
Hal itu sontak mendapat penolakan keras dari golongan muda, yang saat itu dimotori Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana. Mereka menilai PPKI adalah buatan Jepang, sementara mereka menginginkan proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel negara Sakura itu.


Pertemuan antara golongan muda dengan golongan tua kemudian digelar di kediaman Bung Karno, Jl Pegangsaan Timur No 56, Jakarta, pada Rabu, 15 Agustus 1945, sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, terjadi perdebatan 'panas' antara golongan muda dengan Bung Karno mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia.


Perdebatan panas tersebut dimuat di dalam buku "Lahirnya Republik Indonesia." Jakarta: Kinta. 1978, karya Ahmad Soebardjo (1978) dan "Samudera Merah Putih 19 September 1945." Jilid 1. Jakarta: Pustaka Jaya. 1984, karya Lasmidjah Hardi.


Dalam perdebatan itu, golongan muda tetap bersikeras pelaksanaan proklamasi kemerdekaan harus segera dilakukan, jika perlu saat itu juga. Mereka bahkan mengaku siap melawan tentara Jepang jika terjadi pertumpahan darah. Namun, Bung Karno saat itu berpandangan kekuatan para pejuang belum cukup untuk melawan kekuatan bersenjata tentara Jepang.


Setelah tak juga mendapatkan titik temu, Bung Karno akhirnya berunding kepada sejumlah tokoh dari golongan tua, di antaranya
Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Namun, hasil perundingan itu ternyata tak sesuai dengan keinginan golongan muda.

Saat itu, Hatta mengatakan, hasil keputusan yang didapat tidak menyetujui keinginan golongan muda. Sebab dinilai kurang perhitungan dan dapat menimbulkan banyak korban jiwa. Tak terima dengan keputusan itu, golongan muda kemudian 'menculik' Bung Karno dan Bung Hatta, pada Kamis 16 Agustus 1945 sekitar pukul 04.00 WIB.


Meski kecewa dan marah atas 'penculikan' itu, Bung Karno dan Bung Hatta tetap mengikuti keinginan para pemuda untuk menghindari adanya keributan. Saat itu, Bung Karno mengikutsertakan sang istri, Fatmawati dan anaknya, Guntut, yang masih balita.


Keduanya kemudian dibawa ke sebuah rumah milik salah seorang pimpinan PETA, Djiaw Kie Siong, di sebuah kota kecil di dekat karawang yakni Rengasdengklok. Letak Rengasdengklok yang terpencil menjadi salah satu alasan para pemuda memilih tempat itu agar mudah mendeteksi pergerakan tentara Jepang jika menuju tempat itu.


Meski di lokasi itu para pemuda mendesak keduanya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dua proklamator itu tak juga tunduk pada keinginan para pemuda itu.


Kemudian, pada siang harinya, perdebatan panas terjadi antara Bung Karno dengan para pemuda. Bung Karno yang terus ditekan agar segera memproklamasikan kemerdekaan berkukuh akan melakukan hal itu pada 17 Agustus 1945.

Sejumlah alasan disampaikan oleh
Bung Karno soal pemilihan 17 Agustus 1945. Sementara itu, kesepakatan terjadi di Jakarta antara golongan tua yang diwakili Ahmad Soebardjo dengan golongan muda yang diwakili Wikana. Saat itu keduanya sepakat proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan di Jakarta.

Berbekal kesepakatan itu, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian dijemput Ahmad Soebardjo untuk kembali ke Jakarta. Saat itu, Ahmad Soebardjo menjanjikan kepada para pemuda yang berada di Rengasdengklok bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 p[aling lambat pukul 12.00 WIB.


Atas jaminan itu, kedua proklamator itu kemudian diizinkan kembali ke Jakarta. Singkat cerita, proklamasi kemerdekaan Indonesia akhirnya diproklamirkan Bung Karno dengan didampingi Hatta pada Jumat 17 Agustus 1945.

Rabu, 03 April 2013

REVITALISASI KARAKTER PEMUDA INDONESIA

Ketika kita menatap ke masa lampau ketika pemuda dengan begitu gigihnya memperjuangkan nasib bangsa kita dikala bangsa kita telah terpecah belah akibat adu domba penjajah, pemuda dapat tampil sebagai sosok yang dapat dikatan “pelopor” dalam berbagai macam peristiwa yang menentukan perjalanan bangsa kita ke gerbang kemerdekaan. Sikap Patriotisme, Cinta Tanah Air yang tinggi, didukung dengan persatuan yang solid dan semangat tak kenal lelah mendorong para pemuda saat itu menjadi suatu “senjata ampuh” dalam meraih kemerdekaan yang telah lama dinanti-nantikan oleh bangsa Indonesia.

Hal-hal tersebut diatas merupakan suatu keluhuran budi dan pekerti yang harus kita teladani sebagai seorang pemuda masa kini dalam mengisi kemerdekaan. Karena hal tersebutlah inti dan esensi dasar dari peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Sumpah Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional, serta Hari Pahlawan Nasional. Tanpa penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan pahlawan serta tekad untuk mentransformasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, peringatan hari-hari besar nasional hanyalah akan menjadi rutinitas tahunan yang tak akan berdampak positif bagi kehidupan bangsa dan Negara Indonesia.

Setidaknya ada tiga tindakan pemuda yang harus ditempuh dalam rangka mentransformasikan nilai dan semangat kepahlawanan para pemuda pejuang kemerdekaan, yakni :
1.      Kepekaan Sosial;
2.      Motivasi;
3.      Kegigihan, militansi, dan keberanian menanggung resiko.

Kepekaan Sosial
Pemuda masa kini harus sadar bahwa pergerakan nasional lahir dari kepekaan sosial terhadap realitas sosial masyarakat yang menderita akibat belenggu penjajahan. Kepekaan sosial inilah yang membangkitkan semangat juang kaum muda untuk menggulirkan perubahan menuju pranata sosial yang lebih baik. Kepekaan sosial inilah yang harus tetap ada pada karakter pemuda masa kini dalam rangka menghadapi persoalan-persoalan yang membelit bangsa. Kepekaan sosial tentunya akan lahir dari proses interaksi yang intensif dengan masyarakat, dan didukung dengan kecerdasan mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi. Kedua hal tersebutlah yang menjadi kunci bagi pemuda dalam menemukan kunci keluar dari persoalan-persoalan bangsa yang saat ini sedang dihadapi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUTgG3R3hKQgS_Nriw2lfT1uxl-Q-FJqWgfg0WIKGXIwF3ZgSS17ZRVtIjvsuZZNOg424uYwbqN22f4_KH0k5GVUGev4l_290so6iwf_5cq-ItlqA3TdRQDBOSuGtR79fKTLCpDFUA1fC0/s1600/KS2.jpg


Motivasi
Langkah kedua yakni meluruskan motivasi kita. Hal tersebut akan penting karena, Pertama, tanpa motivasi yang lurus dan tulus, peluang suatu pergerakan untuk sukses menjadi menipis. Pasalnya, ketika suatu perjuangan dibangun di atas motivasi yang picik, konflik kepentingan antara sesama pemuda akan menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Konflik kepentingan inilah yang akan menggerus solidaritas serta memecah belah persatuan mereka sebelum berhasil mewujudkan cita-cita perjuangan. Kedua, motivasi yang lurus bisa menjaga tren perjuangan pemuda tetap berada di jalur yang benar, tidak mudah disusupi unsur-unsur eksternal yang bisa mengubah orientasi perjuangan, serta tidak gampang dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan tertentu untuk mewujudkan ambisi kerdilnya.

http://gambarnasihat.files.wordpress.com/2012/10/jalan-yang-lurus.jpg

Kegigihan, Militansi, dan Keberanian Menanggung Resiko
Langkah yang ketiga adalah mewarisi kegigihan, militansi, serta keberanian menanggug risiko. Sebuah perjuangan yang lahir dari kepekaan sosial dan dilakukan dengan motivasi yang lurus, baru akan sempurna ketika dibarengi dengan militansi dan keberanian menanggung risiko. Salah satu contoh heroik yang ditunjukkan para pemuda pejuang kemerdekaan dalam masalah ini adalah, kegigihan mereka menentang “kaum tua” yang ingin memproklamirkan kemerdekaan secara kolektif oleh anggota PPKI. Soekarno dan Hatta selaku ketua dan wakil PPKI menolak gagasan pemuda yang menginginkan proklamasi dibacakan dan ditandatangani oleh Soekarno seorang. Alasannya, ia tidak mau merampas hak anggota PPKI yang sudah hadir di Jakarta untuk memproklamasikan kemerdekaan.

http://4.bp.blogspot.com/-IFFC0fPKno4/Teb7oS161wI/AAAAAAAABWI/S37ilJmZfao/s1600/Kegigihan.jpg

Dalam rangka meneruskan peran positif para pemuda di era perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, pemuda masa kini tentunya menyandang kewajiban moral untuk meneruskan tradisi positif dan pemuda harus dapat dijadikan tumpuan terciptanya kemakmuran, kemajuan, serta kemandirian Indonesia. Menjadi katalisator dan dinamisator agar Indonesia mampu bersaing dan sejajar bahkan unggul dari bangsa-bangsa lain. Apalagi menurut BPS, di tahun 2012 Indonesia memiliki sekitar 168 juta orang yang berusia di bawah 40 Tahun. Hal tersebut berarti, Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang sangat lah tinggi dan mampu untuk menciptakan suatu peradaban yang hebat.

Ironisnya, kenyataan tidak mengatakan demikian. Para pemuda Indonesia sekarang tidak berdaya melawan derasnya arus globalisasi yang dibarengi ekspansi tradisi bangsa asing. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak buruk karena bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya, sehingga akan terjebak dalam kolonialisme kontemporer dan semu: tergantung dan mudah dikendalikan bangsa lain. Hal ini semakin menjadi-jadi ketika kita melihat pemuda saat ini yang pemahamannya terhadap sejarah dan nilai-nilai budaya nasionalisnya drastis menurun, dan seakan lebih bangga untuk mengidentifikasi diri dan berorientasi ke bangsa lain yang ilmu pengetahuan dan teknologinya lebih maju.
Kondisi memprihatinkan seperti ini perlu dan segera mendapat penyelamatan agar bangsa Indonesia tidak hilang identitas dan jati dirinya. Sebuah perjuangan berat memang dan membutuhkan kesadaran dan komitmen utuh dari seluruh pemuda Indonesia.

Adapun langkah-langkah yang harus dibangun dalam rangka mengembalikan kondisi pemuda seperti yang diharapkan, dapat ditempuh dengan memberikan peran-peran yang harus dijalankan oleh para pemuda, antara lain :
1.      Pembangun Karakter
Tergerusnya karakterk positif -- seperti ulet, pantang menyerah, jujur dan kreatif – yang dibarengi tumbuhnya karakterk negative seperti malas, koruptif dan konsumtif di kalangan masyrakat Indonesia, menuntut pemuda untuk merespon hal tersebut dengan cepat dan cerdas serta menemukan solusi yang efektif. Pemuda harus menjadi pioneer yang memperlihatkan kesetiaan untuk memegang teguh
2.      Pemberdaya Karakter
Pembangunan karakter bangsa tentunya tidak cukup jika tidak dilakukakan pemberdayaan yang berkesinambungan. Oleh sebab itu, pemuda harus memiliki tekad untuk menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif. Peran ini sangat berarti karena memerlukan kesadaran kolektif serta kohesivitas yang tinggi di kalangan pemuda/ lebih dari itu, mereka juga harus memiliki keteguhan ketika terlibat dalam dialektika dengan budaya asing.
3.      Perekayasa Karakter
Disini generasi muda dituntut untuk terus melakukan pembelajaran. Hal tersebut karena pengembangan karakterk positif bangsa menuntut adanya modifikasi dan rekayasa yang tepat dan sesuai dengan perkembangan zaman. Contoh kecil saja, sifat patriotik pada saat ini tidak mesti diartikan dalam perjuangan fisik, namun lebih mengarah pada konteks mental, yakni kesediaan untuk lebih mencintai produk dalam negeri.

Jika pemuda Indonesia terus larut dalam arus global yang mengerus jati diri bangsa dan kecintaan terhadap tanah air, sulit rasanya Indonesia akan tetap eksis sebagai suatu bangsa dan Negara yang utuh. Begitu pula sebaliknya, jika seluruh pemuda Indonesia mampu mengintegrasikan semangat juang dan kecintaaan terhadap tanah air yang diwariskan oleh pemuda dan pahlawan perjuangan kemerdekaan, kemudian mampu mengimplementasikannya dalam sebuah tindakan secara kolektif, maka cita-cita perjuangan kemerdekaan dengan mudah pasti dapat terwujud. Sekarang tergantung kita saja.