Rabu, 06 Maret 2013

BERMIMPI TENTANG SINGA, TIKUS, ULAR & SARANG LEBAH



Suatu hari, seorang laki-laki  bermimpi ada seekor singa yang mengejarnya. Kemudian laki-laki itu berlari ke sebuah pohon, memanjat pohon itu, dan duduk di cabang pohon. Ketika dia menengok ke bawah, singa itu masih berada di bawah pohon menunggunya.
Kemudian ketika laki-laki itu melihat ke samping, dia melihat ada dua ekor tikus yang menggerogoti cabang tempat dia duduk. Tentu saja cabang yang dia duduki akan segera tumbang. Dua ekor tikus itu yang satu berwarna hitam dan yang satu lagi berwarna putih.
Kemudian laki-laki itu melihat ke bawah lagi dengan penuh ketakutan, karena tepat di bawahnya ada seekor ular hitam. Ular itu membukan mulutnya dan siap memangsanya jika ia jatuh nanti.
Kemudian laki-laki itu melihat ke atas untuk melihat kalau-kalau dia bisa berpegang pada sesuatu. Dia melihat cabang lain yang pada cabang itu terdapat sarang lebah. Madu menetes dari sarang lebah itu.
Laki-laki itu ingin mencicipi madu yang menetes dari sarang lebah. Maka dia menjulurkan lidahnya untuk mencicipi madu yang menetes. Madu itu ternyata sangat lezat. Kemudian dia ingin mencicipi lagi dan lagi.
Sementara itu, dia melupakan dua ekor tikus yang tengah menggerogoti cabang tempat dia duduk, singa yang menunggu di bawah sana, dan ular yang ada di bawah tempat duduknya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya.
Untuk menafsirkan arti mimpinya, maka laki-laki itu datang kepada seorang ulama. Ulama itu berkata bahwa singa itu melambangkan kematian. Kematian selalu mengintai kita dan selalu mengikuti kemana saja kita pergi.
Adapun dua ekor tikus, yang satu berwarna hitam dan yang lain berwarna putih, melambangkan siang dan malam. Tikus hitam adalah malam, dan tikus putih adalah siang. Malam dan siang datang silih berganti untuk memakan umur kita sehingga kematian pun semakin dekat. Sarang madu adalah dunia dan manisnya madu itu adalah kemewahan dan kenikmatan dunia ini. Kita senang menikmati kemewahan dunia karena memang sangat manis, sehingga kita ingin selalu menikmatinya. Demikianlah, kita selalu asyik dan lupa dengan waktu dan umur kita, kita lupa terhadap kematian, dan kita lupa terhadap kubur yang akan kita masuki.
“Dunia ini seperti seekor ular, sangat lembut ketika disentuh, tetapi racunnya sangat membahayakan. Orang yang bodoh banyak yang tertipu olehnya dan asyik dengannnya, dan orang yang pandai akan menjauhinya dan akibat yang ditimbulkan oleh racun itu.”
(Sayidina Ali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar