Selasa, 19 Maret 2013

PEMUDA SERTA SEJARAH PERJUANGAN BANGSA


Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.
Beri aku 10 pemuda, niscaya kuguncangkan dunia.
-Ir. Soekarno-

Pernyataan dari Bapak Pendiri Negara diatas memang terkesan klise dan hiperbolik, namun jika kita menilik sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, baik itu sejak zaman perjuangan sampai dengan saat ini, selalu saja pemuda memegang peranan yang dominan dalam setiap tonggak persitiwa besar perubahan yang menentukan nasib bangsa kita. Dengan berbekal kerelaan berkorban dan idealism yang tinggi, serta dengan semangat juang tanpa pamrih, Pemuda Indonesia seolah tak kenal lelah dalam menorah kreasi dan prestasi. Merunut pada sejarah lampau, begitu banyak ukiran perubahan positif yang telah dibuat oleh pemuda bangsa Indonesia dari masa ke masa.

Adalah sosok Pemuda Pelajar STOVIA, yang dipelopori oleh Sutomo pada waktu itu, yang mampu tampil mengisi kekosongan kepemimpinan perjuangan setelah ditandatanganinya korte verklaring antara para raja dan sultan dengan Belanda, yang menyatakan bahwa para raja dan sultan tunduk pada kekuasaan Belanda. Pada Ahad 28 Mei 1908, lahirlah Budi Utomo, yang merupakan cikal bakal perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang dipelopori oleh pemuda Indonesia yang memiliki sifat kebersatuan dan cinta tanah air yang tinggi.

Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928, adalah pemuda yang mampu merapatkan barisan dan merajut persatuan ditengah pecah belahnya Bangsa Indonesia akibat politik devide et impera Belanda. Mereka berkumpul bersama mengikrarkan suatu sumpah yang akan kemudian menjadi rumusan identitas kebangsaan kita, yakni Sumpah Pemuda. Sejak saat itu, bangsa Indonesia memiliki konsep dan batasan yang tegas dan jelas akan nilai-nilai kebangsaan kita. Didukung lagi dengan pembentukan organisasi-organisasi pergerakan nasional yang digagas oleh para pemuda, hal tersebut terbukti efektif menumbukembangkan solidaritas masyrakat Indonesia, menciptakan kesamaan visi sebagai satu kebangsaan, dan menggelorakan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Dan hal inilah yang merupakan cikal bakal terwujudnya kemerdekaan Indonesia nantinya.

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTx1539ywY98p5QA3aWfdkTYfmEytTcBnIXyFnGRLoaxvfS8n5S
Salah satu ilustrasi di museum Sumpah Pemuda, Jakarta, yakni saat WR. Soepratman memainkan biola lagu
Indonesia Raya” pada Kongres Pemuda II

Sejumlah tokoh besar yang juga aktif dalam pergerakan nasional antara lain, Agus Salim dan Cokroaminoto memimpin Sarekat Islam ketika berumur 22 tahun. Muhammad Hatta memimpin Perhimpunan Indonesia ketika berusia 21 tahun, dan juga menghadiri sidang Liga Anti Kolonialisme di Paris ketika berusia 23 tahun. Soekarno tampil  sebagai tokoh pergerakan nasional pada umur 22 tahun dan menjadi ketua Partai Nasional Indonesia saat berusia 26 tahun. WR Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya ketika berusia 21 tahun, dan sementara ketika ia memainkan biola pada kongres pemuda II untuk memperdengarkan lagu kebangsaan tersebut, usianya masih 25 tahun. Ada juga Muhammad Yamin aktif di Jong Sumatranen ketika berusia 19 tahun, dan ketika beliau ikut merumuskan Sumpah Pemuda, ia berusia 22 tahun.


http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQW609MtTmAtzt7iZOEDotWzLSoFuxMwAPFelPHtKhjBbeTK_9f                             http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQtjJLptQogP80cbOjN4ePtiy-z4N8HQ8BrwEUQ9Ik0qPOgJ-IN
Muhammad Yamin                                           Haji Oemar Said Cokroaminoto
Sejak saat itu, nasionalisme di kalangan pemuda semakin mengkristal sehingga garis perjuangan mereka semakin padu. Pada tanggal 16 Agustus 1945, mereka kembali menggebrak pentas sejarah dengan menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, lalu mendesak keduanya untuk memproklamirkan kemerdekaan RI tanpa melibatkan anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Mereka beralasan, jika proklamasi melibatkan anggota badan bentukan Jepang tersebut, maka kemerdekaan Indonesia akan terkesan sebagai hadiah dari Jepang, bukan hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri. Oleh sebab itu, wajar jika Ben Anderson menyebut revolusi kemerdekaan Indonesia sebagai “Revolusi Kaum Muda”.
http://ylbnusantara.files.wordpress.com/2011/09/158.jpg


Pasca kemerdekaan, pemuda Indonesia tetap memelihara statusnya—meminjam istilah Amien Rais—sebagai agen of social change (Agen Perubahan Sosial). Makanya, ketika melihat sistem demokrasi berada di bibir jurang akibat besarnya hasrat berkuasa pemimpin Orde Baru, para pemuda berada di garda terdepan dalam menggelorakan semangat refomasi.

Melihat begitu besar pengaruh yang pernah dipersembahkan demi nasib bangsa dan Negara Indonesia kita ini, adalah suatu pekerjaan besar yang harus diemban kepada kita, generasi muda saat ini, yang notabenenya adalah tonggak perjuangan dan pemikul tanggung jawab masa depan bangsa dan Negara. Adalah bukan tidak mungkin kedepan kita dapat menorehkan perubahan-perubahan besar seperti yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam rangka meneruskan cita-cita perjuangan bangsa dan Negara sehingga Indonesia dapat mampu berdiri sebagai bangsa dan Negara yang besar kelaknya.





Rabu, 06 Maret 2013

BERMIMPI TENTANG SINGA, TIKUS, ULAR & SARANG LEBAH



Suatu hari, seorang laki-laki  bermimpi ada seekor singa yang mengejarnya. Kemudian laki-laki itu berlari ke sebuah pohon, memanjat pohon itu, dan duduk di cabang pohon. Ketika dia menengok ke bawah, singa itu masih berada di bawah pohon menunggunya.
Kemudian ketika laki-laki itu melihat ke samping, dia melihat ada dua ekor tikus yang menggerogoti cabang tempat dia duduk. Tentu saja cabang yang dia duduki akan segera tumbang. Dua ekor tikus itu yang satu berwarna hitam dan yang satu lagi berwarna putih.
Kemudian laki-laki itu melihat ke bawah lagi dengan penuh ketakutan, karena tepat di bawahnya ada seekor ular hitam. Ular itu membukan mulutnya dan siap memangsanya jika ia jatuh nanti.
Kemudian laki-laki itu melihat ke atas untuk melihat kalau-kalau dia bisa berpegang pada sesuatu. Dia melihat cabang lain yang pada cabang itu terdapat sarang lebah. Madu menetes dari sarang lebah itu.
Laki-laki itu ingin mencicipi madu yang menetes dari sarang lebah. Maka dia menjulurkan lidahnya untuk mencicipi madu yang menetes. Madu itu ternyata sangat lezat. Kemudian dia ingin mencicipi lagi dan lagi.
Sementara itu, dia melupakan dua ekor tikus yang tengah menggerogoti cabang tempat dia duduk, singa yang menunggu di bawah sana, dan ular yang ada di bawah tempat duduknya. Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya.
Untuk menafsirkan arti mimpinya, maka laki-laki itu datang kepada seorang ulama. Ulama itu berkata bahwa singa itu melambangkan kematian. Kematian selalu mengintai kita dan selalu mengikuti kemana saja kita pergi.
Adapun dua ekor tikus, yang satu berwarna hitam dan yang lain berwarna putih, melambangkan siang dan malam. Tikus hitam adalah malam, dan tikus putih adalah siang. Malam dan siang datang silih berganti untuk memakan umur kita sehingga kematian pun semakin dekat. Sarang madu adalah dunia dan manisnya madu itu adalah kemewahan dan kenikmatan dunia ini. Kita senang menikmati kemewahan dunia karena memang sangat manis, sehingga kita ingin selalu menikmatinya. Demikianlah, kita selalu asyik dan lupa dengan waktu dan umur kita, kita lupa terhadap kematian, dan kita lupa terhadap kubur yang akan kita masuki.
“Dunia ini seperti seekor ular, sangat lembut ketika disentuh, tetapi racunnya sangat membahayakan. Orang yang bodoh banyak yang tertipu olehnya dan asyik dengannnya, dan orang yang pandai akan menjauhinya dan akibat yang ditimbulkan oleh racun itu.”
(Sayidina Ali)