Kamis, 28 Februari 2013

KISAH SEORANG ANAK DAN POHON APEL



Pada suatu masa, ada sebuah pohon apel yang sangat besar. Seorang anak laki-laki sangat senang datang dan bermain di dekat pohon itu setiap hari. Ia memanjat ke atas pohon, memakan apel , kemudian tidur dalam keteduhannya. Ia sangat mencintai pohon itu dan pohon itu juga sangat senang bermain dengannya. Waktu pun berlalu, anak laki-laki itu telah menjadi besar dan ia tidak lagi bermain di dekat pohon itu setipa hari.
Pada suatu hari, anak laki-laki itu datang kembali kepada pohon apel dan ia tampak bersedih. “kemarilah, bermainlah denganku,” kata pohon itu kepadanya. “Aku bukan anak-anak lagi, aku tidak mau lagi bermain didekat pohon,” jawab anak laki-laki. “aku menginginkan mainan. Aku perlu uang untuk membeli mainan.”
“Maaf, tapi aku tidak punya uang, tetapi kamu dapat memetik semua apel yang ada padaku dan menjual semuanya. Maka kamu akan mempunyai uang untuk membeli mainan.”
Anak laki-laki itu merasa senang. Ia memetik semua buah apel yang ada di pohon dan meninggalkan pohon itu dengan perasaan bahagia. Anak laki-laki itu tidak pernah kembali lagi setelah ia memetik apel-apel itu, dan si pohon apel merasa bersedih.
Pada suatu hari, anak laki-laki yang sekarang telah menjadi orang dewasa datang kembali ke pohon apel, dan pohon apel merasa gembira.
“kemarilah, ayo bermain denganku,” kata pohon apel.
“Aku tidak punya waktu untuk bermain lagi.  Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami memerlukan rumah untuk berteduh. Dapatkah kamu menolongku?”
“Maaf, aku tidak mempunyai rumah, tetapi kamu dapat menebang semua cabangku untuk membangun rumah.” Maka laki-laki itu mulai memotong semua cabang pohon apel tersebut dan pergi membawanya dengan perasaan bahagia. Pohon itu sangat senang melihat laki-laki itu bahagia,  tetapi laki-laki itu tidak pernah muncul lagi dan pohon apel tersebut bersedih kembali.
Pada suatu hari di musim panas terik, laki-laki itu kembali dan pohon apel itu merasa gembira. “Kemarilah dan bermainlah denganku,” pinta pohon apel.
“Aku telah tua. Aku ingin berlayar untuk menghibur diriku. Dapatkah kamu memberiku sebuah perahu?” kata laki-laki itu.
“Aku tidak memiliki benda tersebut, tetapi kau dapat menggunakan batangku untuk membuat perahu. Engkau dapat berlayar dengan perahu tersebut ke tempat yang jauh untuk menghibur dirimu,” jawab pohon apel.
Maka laki-laki itu menebang batang pohon itu untuk dijadikan perahu. Kemudian ia berlayar dan tak pernah muncul lagi untuk beberapa lama.
Akhirnya, laki-laki itu kembali lagi beberapa tahun kemudian. “maafkan aku, aku tidak memiliki apa-apa lagi untukmu. Tidak ada lagi buah apel untukmu,” kata pohon apel. “tidak mengapa, aku sudah tidak memiliki gigi lagi untuk mengunyah,” jawab laki-laki itu. “aku sudah terlalu tua sekarang,” lanjutnya. Dan pohon apel berkata, “Aku juga sudah tidak memiliki batang yang dapat kamu panjat, sesungguhnya aku tidak dapat memberikan apa-apa lagi kepadamu, yang tersisa dariku tinggallah akar yang telah mati,” pohon apel itu berkata dengan berlinangan air mata.
“Aku sudah tidak memerlukan apa-apa lagi, yang aku perlukan hanyalah tempat untuk beristirahat. Aku sudah sangat lelah setelah sekian lama menjalani kehidupan ini,” jawab laki-laki itu.
“Baiklah, akar pohon tua adalah tempat yang paling baik untuk bersandar dan beristirahat, duduklah disini bersamaku dan beristirahatlah,” Kata pohon apel. Laki-laki itu kemudian duduk dan pohon apel merasa gembira dan tersenyum dengan berlinangan air mata.
Sebenarnya, ini adalah kisah untuk kita semua. Pohon apel itu ibarat orangtua kita dan laki-laki tersebut adalah kita sendiri. Ketika masih kecil, kita senang sekali bermain dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita sudah mulai besar, kita mulai enggan bermain dengan mereka. Kita hanya datang pada mereka jika kita memerlukan sesuatu atau jika kita dalam kesulitan. Namun, meskipun begitu, meski apa pun yang terjadi, orangtua kita selalu siap memberikan apa saja yang dapat diberikannya, asalkan kita bahagia.
Mungkin kita menganggap perlakuan laki-laki tersebut kejam terhadap pohon apel, namun begitulah kita semua memperlakukan orangtua kita, kita selalu saja menganggap remeh dan tidak menghargai apa yang telah mereka lakukan, hingga segala sesuatunya sudah terlambat barulah kita menyadari.
Untuk itu, marilah kita merenung sejenak, sudahkan kita memberikan sesuatu yang berarti kepada orangtua kita? Atau jangan kan itu, sudahkah kita memperlakukan mereka dengan baik dan semestinya? Mencoba menghargai apa yang mereka lakukan untuk kita? Mari kita introspeksi diri kita. Semoga kita termasuk orang yang sadar. Semoga Tuhan mengampuni kita. Dan semoga orang tua kita selalu mendapat keselamatan dunia dan akhirat, serta mendapat tempat yang layak di sisiNya.

Rabu, 13 Februari 2013

Ari Lasso - Hampa

D      A         Bm
Kupejamkan mata ini
        Em   B    Em
Mencoba tuk melupakan
A      G         D
Segala kenangan indah
 Bm       Em
Tentang dirimu...
      A
Tentang mimpiku

D       A        Bm
Semakin aku mencoba
        Em   B     Em
Bayangmu semakin nyata
A       G          D
Merasuk hingga ke jiwa
Bm        Em      A
Tuhan tolonglah diriku

Reff :
    D   Bm        Em  A
Entah dimana dirimu berada
F#        Bm         Em        A
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
     D   Bm               Em   A
Apakah disana... slalu rindukan aku
F#        Bm            Em
Seperti diriku yang slalu merindukanmu
     A
Selalu merindukanmu

D        A        Bm
Tak bisa aku ingkari
         Em   B    Em
Engkaulah satu-satunya
A         G          D
Yang bisa membuat jiwaku
   Bm        Em
Yang pernah mati
      A
menjadi berarti

D        A           Bm
Namun kini kau menghilang
        Em   B    Em
Bagaikan ditelan bumi
A         G          D
Tak pernahkah kau sadari
Bm       Em     A
Arti cintamu Untukku

Musik : G D G D
G Em G E A