Ketika kita menatap ke
masa lampau ketika pemuda dengan begitu gigihnya memperjuangkan nasib bangsa
kita dikala bangsa kita telah terpecah belah akibat adu domba penjajah, pemuda
dapat tampil sebagai sosok yang dapat dikatan “pelopor” dalam berbagai macam
peristiwa yang menentukan perjalanan bangsa kita ke gerbang kemerdekaan. Sikap
Patriotisme, Cinta Tanah Air yang tinggi, didukung dengan persatuan yang solid
dan semangat tak kenal lelah mendorong para pemuda saat itu menjadi suatu
“senjata ampuh” dalam meraih kemerdekaan yang telah lama dinanti-nantikan oleh
bangsa Indonesia.
Hal-hal tersebut diatas
merupakan suatu keluhuran budi dan pekerti yang harus kita teladani sebagai
seorang pemuda masa kini dalam mengisi kemerdekaan. Karena hal tersebutlah inti
dan esensi dasar dari peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Sumpah
Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional, serta Hari Pahlawan Nasional. Tanpa
penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan pahlawan serta tekad untuk
mentransformasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, peringatan
hari-hari besar nasional hanyalah akan menjadi rutinitas tahunan yang tak akan
berdampak positif bagi kehidupan bangsa dan Negara Indonesia.
Setidaknya ada tiga tindakan pemuda yang
harus ditempuh dalam rangka mentransformasikan nilai dan semangat kepahlawanan
para pemuda pejuang kemerdekaan, yakni :
1.
Kepekaan Sosial;
2.
Motivasi;
3.
Kegigihan, militansi, dan keberanian menanggung resiko.
Kepekaan
Sosial
Pemuda masa kini harus sadar bahwa
pergerakan nasional lahir dari kepekaan sosial terhadap realitas sosial
masyarakat yang menderita akibat belenggu penjajahan. Kepekaan sosial
inilah yang membangkitkan semangat juang kaum muda untuk menggulirkan perubahan
menuju pranata sosial yang lebih baik. Kepekaan sosial inilah yang harus tetap ada pada karakter
pemuda masa kini dalam rangka menghadapi persoalan-persoalan yang membelit
bangsa. Kepekaan sosial tentunya akan lahir dari proses interaksi yang intensif
dengan masyarakat, dan didukung dengan kecerdasan mengidentifikasi masalah yang
sedang dihadapi. Kedua hal tersebutlah yang menjadi kunci bagi pemuda dalam
menemukan kunci keluar dari persoalan-persoalan bangsa yang saat ini sedang
dihadapi.

Motivasi
Langkah
kedua yakni meluruskan motivasi kita. Hal tersebut akan penting karena, Pertama, tanpa motivasi
yang lurus dan tulus, peluang suatu pergerakan untuk sukses menjadi menipis.
Pasalnya, ketika suatu perjuangan dibangun di atas motivasi yang picik, konflik
kepentingan antara sesama pemuda akan menjadi keniscayaan yang tak
terhindarkan. Konflik kepentingan inilah yang akan menggerus solidaritas serta
memecah belah persatuan mereka sebelum berhasil mewujudkan cita-cita
perjuangan. Kedua, motivasi yang lurus bisa menjaga tren perjuangan
pemuda tetap berada di jalur yang benar, tidak mudah disusupi unsur-unsur
eksternal yang bisa mengubah orientasi perjuangan, serta tidak gampang
dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan tertentu untuk mewujudkan ambisi kerdilnya.

Kegigihan, Militansi, dan Keberanian
Menanggung Resiko
Langkah yang ketiga adalah mewarisi kegigihan, militansi,
serta keberanian menanggug risiko. Sebuah perjuangan yang lahir dari kepekaan
sosial dan dilakukan dengan motivasi yang lurus, baru akan sempurna ketika
dibarengi dengan militansi dan keberanian menanggung risiko. Salah satu contoh
heroik yang ditunjukkan para pemuda pejuang kemerdekaan dalam masalah ini
adalah, kegigihan mereka menentang “kaum tua” yang ingin memproklamirkan
kemerdekaan secara kolektif oleh anggota PPKI. Soekarno dan Hatta selaku ketua
dan wakil PPKI menolak gagasan pemuda yang menginginkan proklamasi dibacakan dan
ditandatangani oleh Soekarno seorang. Alasannya, ia tidak mau merampas hak
anggota PPKI yang sudah hadir di Jakarta untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Dalam rangka meneruskan peran positif
para pemuda di era perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, pemuda masa
kini tentunya menyandang kewajiban moral untuk meneruskan tradisi positif dan
pemuda harus dapat dijadikan tumpuan terciptanya kemakmuran, kemajuan, serta
kemandirian Indonesia. Menjadi katalisator dan dinamisator agar Indonesia mampu
bersaing dan sejajar bahkan unggul dari bangsa-bangsa lain. Apalagi menurut
BPS, di tahun 2012 Indonesia memiliki sekitar 168 juta orang yang berusia di
bawah 40 Tahun. Hal tersebut berarti, Indonesia memiliki penduduk usia
produktif yang sangat lah tinggi dan mampu untuk menciptakan suatu peradaban
yang hebat.
Ironisnya, kenyataan tidak mengatakan
demikian. Para pemuda Indonesia sekarang tidak berdaya melawan derasnya arus
globalisasi yang dibarengi ekspansi tradisi bangsa asing. Hal ini secara tidak
langsung akan berdampak buruk karena bangsa Indonesia akan kehilangan jati
dirinya, sehingga akan terjebak dalam kolonialisme kontemporer dan semu: tergantung
dan mudah dikendalikan bangsa lain. Hal ini semakin menjadi-jadi ketika kita
melihat pemuda saat ini yang pemahamannya terhadap sejarah dan nilai-nilai
budaya nasionalisnya drastis menurun, dan seakan lebih bangga untuk
mengidentifikasi diri dan berorientasi ke bangsa lain yang ilmu pengetahuan dan
teknologinya lebih maju.
Kondisi memprihatinkan seperti ini perlu
dan segera mendapat penyelamatan agar bangsa Indonesia tidak hilang identitas
dan jati dirinya. Sebuah perjuangan berat memang dan membutuhkan kesadaran dan
komitmen utuh dari seluruh pemuda Indonesia.
Adapun langkah-langkah yang harus
dibangun dalam rangka mengembalikan kondisi pemuda seperti yang diharapkan,
dapat ditempuh dengan memberikan peran-peran yang harus dijalankan oleh para pemuda,
antara lain :
1.
Pembangun Karakter
Tergerusnya karakterk positif -- seperti ulet, pantang menyerah, jujur
dan kreatif – yang dibarengi tumbuhnya karakterk negative seperti malas,
koruptif dan konsumtif di kalangan masyrakat Indonesia, menuntut pemuda untuk
merespon hal tersebut dengan cepat dan cerdas serta menemukan solusi yang
efektif. Pemuda harus menjadi pioneer yang memperlihatkan kesetiaan untuk
memegang teguh
2.
Pemberdaya Karakter
Pembangunan karakter bangsa tentunya tidak cukup jika tidak dilakukakan
pemberdayaan yang berkesinambungan. Oleh sebab itu, pemuda harus memiliki tekad
untuk menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif. Peran
ini sangat berarti karena memerlukan kesadaran kolektif serta kohesivitas yang
tinggi di kalangan pemuda/ lebih dari itu, mereka juga harus memiliki keteguhan
ketika terlibat dalam dialektika dengan budaya asing.
3.
Perekayasa Karakter
Disini generasi muda dituntut untuk terus melakukan pembelajaran. Hal
tersebut karena pengembangan karakterk positif bangsa menuntut adanya
modifikasi dan rekayasa yang tepat dan sesuai dengan perkembangan zaman. Contoh
kecil saja, sifat patriotik pada saat ini tidak mesti diartikan dalam
perjuangan fisik, namun lebih mengarah pada konteks mental, yakni kesediaan untuk
lebih mencintai produk dalam negeri.
Jika pemuda Indonesia terus larut dalam
arus global yang mengerus jati diri bangsa dan kecintaan terhadap tanah air,
sulit rasanya Indonesia akan tetap eksis sebagai suatu bangsa dan Negara yang
utuh. Begitu pula sebaliknya, jika seluruh pemuda Indonesia mampu
mengintegrasikan semangat juang dan kecintaaan terhadap tanah air yang
diwariskan oleh pemuda dan pahlawan perjuangan kemerdekaan, kemudian mampu
mengimplementasikannya dalam sebuah tindakan secara kolektif, maka cita-cita
perjuangan kemerdekaan dengan mudah pasti dapat terwujud. Sekarang tergantung
kita saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar