Rabu, 03 April 2013

REVITALISASI KARAKTER PEMUDA INDONESIA

Ketika kita menatap ke masa lampau ketika pemuda dengan begitu gigihnya memperjuangkan nasib bangsa kita dikala bangsa kita telah terpecah belah akibat adu domba penjajah, pemuda dapat tampil sebagai sosok yang dapat dikatan “pelopor” dalam berbagai macam peristiwa yang menentukan perjalanan bangsa kita ke gerbang kemerdekaan. Sikap Patriotisme, Cinta Tanah Air yang tinggi, didukung dengan persatuan yang solid dan semangat tak kenal lelah mendorong para pemuda saat itu menjadi suatu “senjata ampuh” dalam meraih kemerdekaan yang telah lama dinanti-nantikan oleh bangsa Indonesia.

Hal-hal tersebut diatas merupakan suatu keluhuran budi dan pekerti yang harus kita teladani sebagai seorang pemuda masa kini dalam mengisi kemerdekaan. Karena hal tersebutlah inti dan esensi dasar dari peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Sumpah Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional, serta Hari Pahlawan Nasional. Tanpa penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan pahlawan serta tekad untuk mentransformasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, peringatan hari-hari besar nasional hanyalah akan menjadi rutinitas tahunan yang tak akan berdampak positif bagi kehidupan bangsa dan Negara Indonesia.

Setidaknya ada tiga tindakan pemuda yang harus ditempuh dalam rangka mentransformasikan nilai dan semangat kepahlawanan para pemuda pejuang kemerdekaan, yakni :
1.      Kepekaan Sosial;
2.      Motivasi;
3.      Kegigihan, militansi, dan keberanian menanggung resiko.

Kepekaan Sosial
Pemuda masa kini harus sadar bahwa pergerakan nasional lahir dari kepekaan sosial terhadap realitas sosial masyarakat yang menderita akibat belenggu penjajahan. Kepekaan sosial inilah yang membangkitkan semangat juang kaum muda untuk menggulirkan perubahan menuju pranata sosial yang lebih baik. Kepekaan sosial inilah yang harus tetap ada pada karakter pemuda masa kini dalam rangka menghadapi persoalan-persoalan yang membelit bangsa. Kepekaan sosial tentunya akan lahir dari proses interaksi yang intensif dengan masyarakat, dan didukung dengan kecerdasan mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi. Kedua hal tersebutlah yang menjadi kunci bagi pemuda dalam menemukan kunci keluar dari persoalan-persoalan bangsa yang saat ini sedang dihadapi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUTgG3R3hKQgS_Nriw2lfT1uxl-Q-FJqWgfg0WIKGXIwF3ZgSS17ZRVtIjvsuZZNOg424uYwbqN22f4_KH0k5GVUGev4l_290so6iwf_5cq-ItlqA3TdRQDBOSuGtR79fKTLCpDFUA1fC0/s1600/KS2.jpg


Motivasi
Langkah kedua yakni meluruskan motivasi kita. Hal tersebut akan penting karena, Pertama, tanpa motivasi yang lurus dan tulus, peluang suatu pergerakan untuk sukses menjadi menipis. Pasalnya, ketika suatu perjuangan dibangun di atas motivasi yang picik, konflik kepentingan antara sesama pemuda akan menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Konflik kepentingan inilah yang akan menggerus solidaritas serta memecah belah persatuan mereka sebelum berhasil mewujudkan cita-cita perjuangan. Kedua, motivasi yang lurus bisa menjaga tren perjuangan pemuda tetap berada di jalur yang benar, tidak mudah disusupi unsur-unsur eksternal yang bisa mengubah orientasi perjuangan, serta tidak gampang dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan tertentu untuk mewujudkan ambisi kerdilnya.

http://gambarnasihat.files.wordpress.com/2012/10/jalan-yang-lurus.jpg

Kegigihan, Militansi, dan Keberanian Menanggung Resiko
Langkah yang ketiga adalah mewarisi kegigihan, militansi, serta keberanian menanggug risiko. Sebuah perjuangan yang lahir dari kepekaan sosial dan dilakukan dengan motivasi yang lurus, baru akan sempurna ketika dibarengi dengan militansi dan keberanian menanggung risiko. Salah satu contoh heroik yang ditunjukkan para pemuda pejuang kemerdekaan dalam masalah ini adalah, kegigihan mereka menentang “kaum tua” yang ingin memproklamirkan kemerdekaan secara kolektif oleh anggota PPKI. Soekarno dan Hatta selaku ketua dan wakil PPKI menolak gagasan pemuda yang menginginkan proklamasi dibacakan dan ditandatangani oleh Soekarno seorang. Alasannya, ia tidak mau merampas hak anggota PPKI yang sudah hadir di Jakarta untuk memproklamasikan kemerdekaan.

http://4.bp.blogspot.com/-IFFC0fPKno4/Teb7oS161wI/AAAAAAAABWI/S37ilJmZfao/s1600/Kegigihan.jpg

Dalam rangka meneruskan peran positif para pemuda di era perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, pemuda masa kini tentunya menyandang kewajiban moral untuk meneruskan tradisi positif dan pemuda harus dapat dijadikan tumpuan terciptanya kemakmuran, kemajuan, serta kemandirian Indonesia. Menjadi katalisator dan dinamisator agar Indonesia mampu bersaing dan sejajar bahkan unggul dari bangsa-bangsa lain. Apalagi menurut BPS, di tahun 2012 Indonesia memiliki sekitar 168 juta orang yang berusia di bawah 40 Tahun. Hal tersebut berarti, Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang sangat lah tinggi dan mampu untuk menciptakan suatu peradaban yang hebat.

Ironisnya, kenyataan tidak mengatakan demikian. Para pemuda Indonesia sekarang tidak berdaya melawan derasnya arus globalisasi yang dibarengi ekspansi tradisi bangsa asing. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak buruk karena bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya, sehingga akan terjebak dalam kolonialisme kontemporer dan semu: tergantung dan mudah dikendalikan bangsa lain. Hal ini semakin menjadi-jadi ketika kita melihat pemuda saat ini yang pemahamannya terhadap sejarah dan nilai-nilai budaya nasionalisnya drastis menurun, dan seakan lebih bangga untuk mengidentifikasi diri dan berorientasi ke bangsa lain yang ilmu pengetahuan dan teknologinya lebih maju.
Kondisi memprihatinkan seperti ini perlu dan segera mendapat penyelamatan agar bangsa Indonesia tidak hilang identitas dan jati dirinya. Sebuah perjuangan berat memang dan membutuhkan kesadaran dan komitmen utuh dari seluruh pemuda Indonesia.

Adapun langkah-langkah yang harus dibangun dalam rangka mengembalikan kondisi pemuda seperti yang diharapkan, dapat ditempuh dengan memberikan peran-peran yang harus dijalankan oleh para pemuda, antara lain :
1.      Pembangun Karakter
Tergerusnya karakterk positif -- seperti ulet, pantang menyerah, jujur dan kreatif – yang dibarengi tumbuhnya karakterk negative seperti malas, koruptif dan konsumtif di kalangan masyrakat Indonesia, menuntut pemuda untuk merespon hal tersebut dengan cepat dan cerdas serta menemukan solusi yang efektif. Pemuda harus menjadi pioneer yang memperlihatkan kesetiaan untuk memegang teguh
2.      Pemberdaya Karakter
Pembangunan karakter bangsa tentunya tidak cukup jika tidak dilakukakan pemberdayaan yang berkesinambungan. Oleh sebab itu, pemuda harus memiliki tekad untuk menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif. Peran ini sangat berarti karena memerlukan kesadaran kolektif serta kohesivitas yang tinggi di kalangan pemuda/ lebih dari itu, mereka juga harus memiliki keteguhan ketika terlibat dalam dialektika dengan budaya asing.
3.      Perekayasa Karakter
Disini generasi muda dituntut untuk terus melakukan pembelajaran. Hal tersebut karena pengembangan karakterk positif bangsa menuntut adanya modifikasi dan rekayasa yang tepat dan sesuai dengan perkembangan zaman. Contoh kecil saja, sifat patriotik pada saat ini tidak mesti diartikan dalam perjuangan fisik, namun lebih mengarah pada konteks mental, yakni kesediaan untuk lebih mencintai produk dalam negeri.

Jika pemuda Indonesia terus larut dalam arus global yang mengerus jati diri bangsa dan kecintaan terhadap tanah air, sulit rasanya Indonesia akan tetap eksis sebagai suatu bangsa dan Negara yang utuh. Begitu pula sebaliknya, jika seluruh pemuda Indonesia mampu mengintegrasikan semangat juang dan kecintaaan terhadap tanah air yang diwariskan oleh pemuda dan pahlawan perjuangan kemerdekaan, kemudian mampu mengimplementasikannya dalam sebuah tindakan secara kolektif, maka cita-cita perjuangan kemerdekaan dengan mudah pasti dapat terwujud. Sekarang tergantung kita saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar