Ada yang
tidak tahu Ketupat? Saya rasa setiap orang Indonesia mungkin sudah tidak lazim
lagi mendengar, melihat dan mengkonsumsi makanan yang satu ini, apalagi setiap
Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, seolah-olah makanan
ini adalah makanan wajib pada kedua momen tersebut. Tapi apa pernah terlintas di benak kita untuk mempertanyakan
asal-usul ketupat, siapa penemu ketupat ini? Dan bagaimana prosesnya hingga
menjadi makanan yang populer di Indonesia? Atau apa makna filosofis yang
terkandung dalam ketupat tersebut? Jika anda salah satu orang yang ingin
mengetahui atau bahkan pernah bertanya tentang hal tersebut, ini lah
jawabannya..
Ketupat yang
seperti kita ketahui adalah makanan pengganti nasi dengan bahan dasar yang sama
yakni beras, namun dalam pengolahannya dibungkus dengan anyaman daun kelapa dan
dikukus matang. Ketupat umumnya dihindangkan bersama gulai, semur atau sate. Selain
di Indonesia, ketupat juga dijumpai di negara Malaysia, Singapura dan mungkin
ada di negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya.
Berdasarkan sejarah
yang diketahui, Ketupat di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Kanjeng
Sunan Kalijaga. Kanjeng Sunan sendiri membudayakan perayaan dengan ketupat itu
pada dua waktu, yakni Pasca Lebaran dan Ba’da Kupat, yaitu periode yang diawali seminggu
setelah Lebaran. Pada kala itu dibuat untuk diantarkan kepada kerabat yang
lebih tua dan dikonsumsi bersama sebagai bentuk rasa hormat dan simbol kekeluargaan.
Adapun makna
filosofis lain yang terkandung dalam ketupat, antara lain:
-
Anyaman ketupat yang rumit adalah simbol
dari berbagai macam kesalahan manusia.
-
Warna putih dari isi ketupat mencerminkan
kemurnian dan kesucian hati manusia (pada dasarnya)
-
Bentuk ketupat yang teranyam rapi menunjukkan
kesempurnaan ibadah kita setelah selama sebulan penuh menunaikan ibadah puasa (tapi
mungkin sekarang bentuk ketupat mestinya sedikit dimodif, mengingat kualitas
puasa kita, hehe)..
Nah, itulah
serba-serbi ketupat yang mungkin penulis dapat rangkum, kalau ada tambahan yang
silakan saja..
Setidak-tidaknya
mari kita belajar menjaga makna filosofis ketupat tersebut dengan meningkatkan
iman dan taqwa kita.. hidup ketupat!!!
follback eaa kakaaa
BalasHapus