1.
Dianjurkan untuk mandi sebelum
berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu
‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”
2.
Berhias diri dan memakai pakaian yang
terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar
ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”
3.
Makan sebelum keluar menuju Shalat ‘Id
khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.
Dari
‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam biasa berangkat Shalat ‘Id pada hari Idul Fithri dan beliau makan
terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu
kecuali setelah pulang dari Shalat ‘Id baru beliau menyantap hasil qurbannya.”
Hikmah
dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak
disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul
Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban
bisa segera disembelih dan dinikmati setelah Shalat ‘Id.
4.
Bertakbir ketika keluar hendak Shalat
‘Id. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak
shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan
dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan,
beliau berhenti dari bertakbir.”
Dari
Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat
Shalat ‘Id (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah
bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin
Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa
ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”
5.
Menyuruh wanita dan anak kecil untuk
berangkat Shalat ‘Id. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu
‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan
adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai
harum-haruman.
Sedangkan
dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah
ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri Shalat
‘Id bersama Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab, “Iya, aku
menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk
sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.”
6.
Melewati jalan pergi dan pulang yang
berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Shalat ‘Id, beliau lewat
jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.”
7.
Dianjurkan berjalan kaki sampai ke
tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu
‘Umar, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat Shalat
‘Id dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“
Dalam
pelaksanaannya, tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah Shalat ‘Id, dari
Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari
Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan Shalat ‘Id dua raka’at,
namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.“
(HR Bukhari – Muslim)
Juga
tidak perlu adzan dan iqamah, dari Jabir bin Samuroh, ia berkata, “Aku pernah
melaksanakan Shalat ‘Id (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan
maupun iqamah.” (HR Muslim)
Ibnul
Qayyim mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke
tempat shalat, beliau pun mengerjakan Shalat ‘Id tanpa ada adzan dan iqomah.
Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul
Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam
tadi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar